Bagaimana peran algoritma dalam perubahan perilaku manusia?
Algoritma adalah instruksi dan sinyal otomatis yang memetakan perilaku, minat dan ketertarikan pengguna pada kategori tertentu. Dengan menganalisis perilaku pengguna seperti suka, berbagi, komentar, dan waktu menonton memberikan data yang sangat kaya sehingga algoritma dapat memprediksi dan menampilkan konten yang paling mungkin mendorong keterlibatan, menyesuaikan setiap beranda dengan preferensi individu.
Algoritma kini telah mendikte setiap jengkal kehidupan kita, mulai dari apa yang kita cari hingga apa yang kita butuhkan, misal kita mencari iPhone 14 di Shopee, iklan yang sama akan tampil di Facebook atau di YouTube, atau bahkan di situs berita seperti Kompas dan Tribun.
Sejarah awal algoritma
Teknologi ini awalnya dikembangkan oleh Lou Montulli ketika sedang bekerja Netscape pada tahun 1994, yang kemudian kita kenal sebagai cookies. Teknologi tersebut berevolusi jadi alat periklanan yang cukup efektif namun tidak konvensional, diperkenalkan oleh DoubleClick melalui program Boomerang pada tahun 1998 yang merupakan cikal bakal teknologi retargeting.
Setahun setelahnya DoubleClick mencoba menggabungkan data perilaku pengguna online yang menggunakan cookies dan offline dengan mencoba mengakuisisi Abacus Direct senilai US$1,7 miliar, yang memicu kontroversi privasi besar & berujung pada penyelidikan komisi perdagangan federal AS, FTC pada tahun 2000. Penyelidikan tersebut dihentikan pada 2001 karena tidak ditemukan adanya penggabungan data perilaku yang dicurigai tersebut.
Evolusi algoritma
Algoritma menggunakan teknologi bernama cookies, yaitu file teks kecil yang berisi kode ID unik yang disimpan situs web di browser untuk mengingat informasi pengguna, seperti status login, isi keranjang belanja, dan preferensi situs. Cookie dapat membantu algoritma meningkatkan pengalaman akurasi retargeting dan personalisasi iklan yang lebih akurat sesuai minat pengguna, karena cookies mirip seperti buku catatan apa yang sedang atau pernah dicari pengguna, meskipun secara umum, cookies berfungsi menjaga pengguna tetap masuk di situs-situs yang mereka kunjungi.
Pada 13 April 2007, Google akhirnya memenangkan kesepakatan untuk membeli DoubleClick senilai US$3,1 miliar, setelah melalui persaingan ketat dengan Microsoft dan Yahoo!. Sejak saat itu, algoritma dan periklanan modern seperti retargeting telah berevolusi jadi senjata mematikan bagi psikologi manusia.
Inilah yang kita kenal sebagai retargeting, tujuannya jelas: yaitu menarik kita untuk kembali melihat produk tersebut bahkan membelinya. Mereka memanfaatkan iklan berbayar seperti fitur Meta Collaborative Ads (CPAS) yang menampilkan produk Shopee di Facebook dan Instagram.
Era media sosial
Dalam media sosial, algoritma menentukan bagaimana konten disaring, diberi peringkat, dipilih, dan direkomendasikan kepada pengguna. Dalam beberapa hal, algoritma memengaruhi pilihan kita dan apa yang kita lihat di media sosial.
Algoritma menggunakan sinyal dari perilaku kita dengan membaca data dari cookies, untuk memprediksi konten yang paling relevan sehingga kita terus menggulir layar kebawah dan semakin kebawah, tanpa terbebani oleh berapa banyak waktu yang kita buang untuk scrolling media sosial. Keduanya bekerjasama membangun profil minat kita yang sangat presisi, digunakan sebagai refererensi untuk menentukan konten dan iklan apa yang akan kita lihat.
Selain personalisasi, algoritma akan sedikit memaksakan konten yang sedang viral, hype dan hangat di media sosial, misalnya kasus perselingkuhan artis, blunder pejabat atau menteri, serta kasus-kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat seperti pemerkosaan, penculikan atau pembunuhan. Konten-konten seperti ini menciptakan viralitas, waktu tonton dan komentar yang tidak berujung, karena biasanya selalu ada pro-kontra terhadap apa yang sedang terjadi.
Dengan begitu, terjadilah apa yang kami sebut sebagai narasi abu-abu, yaitu pengabaian pada nilai-nilai kemanusiaan, privasi dan harga diri manusia selama platform media sosial mendapat keuntungan dari iklan, konten kreator dibayar dan di endorse brand, serta kita sebagai penonton mendapat kepuasan pada limbik atau hasrat yang selalu efektif jadi bahan bakar ekonomi dalam bidang apapun.
Efek samping
Kesehatan mental
Waktu yang dihabiskan di media sosial, terutama usia remaja sangat berkaitan erat seperti yang dijelaskan pada jurnal kesehatan Interplay between social media use, sleep quality, and mental health in youth: A systematic review1 yang mengkaji hubungan antara penggunaan media sosial aktif, kualitas tidur, dan hasil kesehatan mental umum, seperti kecemasan, depresi, dan tekanan psikologis, pada remaja (usia 16–25 tahun).
Jurnal tersebut menjelaskan bagaimana hasil buruk pada penggunaan sosial media secara berlebihan dengan hasil kesehatan mental yang buruk dan kualitas tidur yang buruk dalam studi potong lintang. Selain itu, hal tersebut sering sebagai faktor risiko untuk kesehatan mental yang buruk dan hasil tidur yang buruk dalam studi longitudinal, dengan kualitas tidur terkadang memediasi hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental negatif.
Dampak sosial
Mengutip artikel Rumah Sakit Krakatau Medika, dengan judul Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental, menjelaskan beberapa dampak negatif dari penggunaan media sosial yaitu:
1.. Perbandingan sosial
Merasa rendah diri, tidak cukup sukses atau cukup baik karena kehidupan kita selalu berdasarkan pada standar hidup yang ditampilkan orang lain. Meningkatnya hormon stress (kortisol) yang memicu kecemasan, depresi dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
2. Kecanduan
Selain judi online, sosial media juga dapat menyebabkan kecanduan, bedanya jika judi online merusak keadaan ekonomi, psikis, dan sosial pecandunya. Seorang pecandu sosial media tidak akan merasakan hal tersebut, namun terlihat pada perilaku sosial yang semakin tertutup, membatasi diri dalam pergaulan di dunia nyata, kurang interaksi dengan teman atau anggota keluarga yang juga berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
3. Paparan konten negatif
Kami menamai istilah ini dengan negative content behaviour, yaitu terpapar konten negatif bahkan ekstrem di media sosial, seperti kasus bom yang terjadi akibat pelaku mengalami perundungan, seharusnya pelaku berkonsultasi dengan orang tua, pihak sekolah atau pihak terkait lainnya. Bukan bergabung dengan komunitas ekstremist atau kelompok radikal di media sosial, yang belakangan di identifikasi sebagai komunitas True Crime Community seperti yang dimuat oleh BBC Indonesia. Berita tersebut mengutip penjelasan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Eddy Hartono:
Jadi, dia lebih kepada meniru ide atau perilaku yang terjadi. Dia meniru supaya bisa dibilang hebat, supaya ada kebanggaan.
Pencegahan
Mencegah kecanduan media sosial dan dampak negatifnya membutuhkan pendekatan terkoordinasi yang menyeimbangkan langkah-langkah pembatasan dengan bimbingan pendidikan, karena mencegah efek negatif pada sosial media dan algoritma tidak dapat dilakukan oleh satu lapisan masyarakat saja, diperlukan peran orangtua, sekolah, dan pemerintah untuk menyelamatkan generasi bangsa dari kehancuran sistemik, terutama menurunnya daya saing di era persaingan pasar bebas.
Pada dasarnya, manusia memiliki bagian otak yang kita kenal sebagai superego2, yaitu struktur dalam diri yang bertanggung jawab dalam menentukan apakah suatu tindakan dianggap baik atau buruk, benar atau salah. Superego sama halnya dengan hati nurani atau moralitas3, yang mengenali nilai baik dan buruk dan mengacu pada moralitas dalam kepribadian.
Superego berfungsi sebagai controller atau pengendali id terutama yang bertolak belakang dengan kebudayaan, norma yang dilarang oleh agama & masyarakat, seperti mencuri, membunuh, perilaku seks menyimpang, manipulasi, serta perbuatan tercela lainnya. Superego akan membatasi segala dorongan dari Id yang tidak terkendali, meskipun terkadang seseorang sadar akan moral dan etika, tetapi adakalanya hasrat yang berhasil menipu logika sulit membedakan mana positif mana negatif.
Dalam perspektif neuroscience, fenomena pembajakan fungsi Prefrontal Cortex (PFC) oleh sistem limbik adalah mekanisme yang menjelaskan mengapa seseorang berperilaku impulsif. Mekanisme ini menunjukkan bagaimana otak merespons lonjakan dopamin yang memberikan sensasi reward, sehingga seseorang tetap mengejar kesenangan meskipun pada hal yang negatif atau terlarang.

Gambar diatas menunjukkan sirkuit Dopamine Reward System. Proses dimulai dari VTA yang melepaskan dopamin. Amygdala (Amy) kemudian berperan menentukan nilai emosional dari stimulus tersebut. Melalui interaksi dengan Nucleus Accumbens (NAc), muncul dorongan atau motivasi kuat untuk mengejar kembali imbalan tersebut. Secara bersamaan, Hippocampus (Hip) merekam memori dan konteks kejadiannya. Terakhir, informasi emosional ini dikirim ke Prefrontal Cortex (PFC), di mana logika bekerja untuk memutuskan apakah tindakan tersebut akan diulangi atau tidak.
Peran orang tua
Orang tua bertindak sebagai garis pertahanan pertama melalui pemantauan, penetapan batasan, dan pemberian contoh. Orang tua dapat melakukan:
- Menetapkan batasan waktu penggunaan layar harian (misalnya, satu jam per hari)
- Terapkan “zona tanpa teknologi” di kamar tidur dan selama makan keluarga
- Pertimbangkan untuk menunda penggunaan media sosial hingga usia 13 atau 14 tahun, karena otak remaja yang lebih muda lebih rentan terhadap fitur yang didorong oleh dopamin
- Selalu buka komunikasi yang sehat, produktif dan aman bagi mental anak-anak, tidak memaki atau memarahi anak sehingga mereka enggan membangun komunikasi dengan orang tua
- Ajarkan anak-anak untuk selalu melindungi privasi mereka, seperti identitas diri, alamat tempat tinggal, dan nama atau pekerjaan orang tua di media sosial
- Berikan contoh orang tua yang positif pada anak, seperti tidak terlalu sering menggunakan ponsel, lebih mengutamakan interaksi nyata dan mengobrol, sehingga tercipta bounding yang kuat
Peran sekolah
Sekolah dapat menyediakan keterampilan literasi digital yang diperlukan dan sistem dukungan profesional, serta melatih guru untuk belajar mengerti kebutuhan dan mau mendengarkan keluhan siswa, sehingga siswa tidak punya alasan untuk “curhat” di media sosial, karena semua kebutuhan mereka di sekolah telah terjawab oleh pihak sekolah.
Sekolah juga dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif, seperti lomba menulis, lomba puisi, atau kesenian dan kegiatan lainnya, sehingga anak-anak terutama remaja dapat menanfaatkan media sosial untuk mencari inspirasi atau ide untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, sehingga algoritma bekerja secara positif dan hanya memberikan konten-konten yang edukatif dan produktif.
Peran kementrian dan pemerintah
Pemerintah dan kementrian dapat fokus pada perubahan sistemik terhadap keamanan platform, standar nasional atau peraturan melalui undang-undang seperti PP Tunas yang membatasi akses media sosial pada anak dibawah 16 tahun, mencontoh negara seperti Australia telah mengeluarkan undang-undang yang melarang media sosial untuk anak-anak di bawah 16 tahun.
Pemerintah melalui Komdigi dapat menerapkan standar yang lebih tinggi untuk privasi data anak untuk membatasi iklan yang ditargetkan dan paparan algoritma berbahaya. Meningkatkan pendanaan nasional untuk studi jangka panjang tentang dampak kesehatan teknologi digital pada kaum muda.
Refleksi
Secara garis besar, algoritma adalah cara bagaimana korporasi bermain dua kaki, di satu sisi mereka memberikan konten dan personalisasi iklan yang positif. Sementara di seberang sana, alat yang sama juga mempersonalisasi konten serta iklan yang negatif, berbahaya dan mengancam kesehatan mental.
Adanya PP TUNAS (Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak) atau PP No. 17 Tahun 2025 yang berlaku sejak Maret 2026 untuk melindungi anak di bawah 16 tahun di ruang digital, diharapkan dapat melindungi keamanan dan kesehatan mental pengguna media sosial.
Dengan adanya keterlibatan orang tua, sekolah serta pemerintah dan otoritas negara dalam menjaga perkembangan algoritma dan media sosial, diharapkan generasi penerus kita dapat menjadi generasi yang membawa prestasi dan berkiprah di kancah internasional, mengharumkan nama bangsa serta membawa nama baik keluarga.
Referensi
Topik dalam Artikel Ini
Memuat kontributor…
Dan para kontributor lainnya yang mendukung MauCariApa.com.
Telkomsel OrbitPenyedia layanan internet rumah yang menggunakan perangkat modem WiFi tanpa langganan
Penyedia layanan internet rumah yang menggunakan perangkat modem WiFi tanpa langganan
Diskusi & Komentar
Panduan Komentar
- • Gunakan bahasa yang sopan dan konstruktif
- • Hindari spam, promosi, atau link yang tidak relevan
- • Komentar akan terus dipantau secara berkala